Rabu, 13 April 2016

Kentut Sapi dan Global Warming, Apa Hubungannya?




Dewasa ini banyak sekali permasalahan-permasalahan yang menimpa bumi ini, terutama masalah lingkungan. Tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan yang namanya Pemanasan Global (Global Warming). Banyak faktor penyebab global warming, salah satunya adalah pada sektor peternakan, khususnya peternakan sapi. Sapi termasuk hewan mamalia dari familia Bovidae dan subfamilia Bovinae. Sapi dipelihara untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai bahan pangan. Kotoran sapi pun kini telah dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil yang sudah mulai langka, bahkan sebagai media pembenihan cacing tanah, yang nantinya digunakan sebagai bahan obat. Tapi tahukah Anda, bahwa selama ini sapi ternyata menjadi salah satu penyebab global warming? Sejak dulu kita hanya menyalahkan CO2, CO, atau CFC sebagai biang kerok penyebab global warming, padahal ada beberapa biang keladi lain penyebab global warming, salah satunya adalah gas metana. Gas Metana Sangat Berbahaya Mungkin belum banyak orang yang tahu tentang gas metana. Metana adalah gas anaerobik yang dihasilkan dari aktivitas mikroorganisme saat menguraikan bahan-bahan organik. Perlu diketahui bahwasanya gas metana mengandung emisi efek rumah kaca 23 kali lebih ganas ketimbang dengan gas CO2. Gas metana dihasilkan melalui proses yang berlangsung secara alamiah. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan jumlah gas metana selain yang tersimpan di dasar laut pada kutub bumi adalah meningkatnya populasi ternak. Selama ini ternyata sapi merupakan salah satu hewan ternak penyumbang terbesar gas metana. Sistem pencernaan sapi yang sangat lambat menjadi alasan mengapa binatang itu menghasilkan banyak gas metana, khususnya pada kentut sapi. Gas metana memiliki potensi menghasilkan efek rumah kaca seperti halnya gas CO2, bahkan lebih ganas 23 kalinya.
Pernah dilakukan suatu penelitian yang dilakukan oleh seorang yang berasal dari Argentina, bahwasanya didapatkan fakta kalau gas metana dari sapi menyumbang lebih dari 30% total emisi penyebab efek rumah kaca negara Argentina. Sebagai salah satu negara penghasil daging sapi terbesar di dunia, Argentina mempunyai lebih dari 55 juta ekor sapi yang merumput di daerah Pampas. Dapat disimpulkan bahwa ketika seseorang mengkonsumsi banyak daging sapi, maka orang tersebut secara tidak langsung telah ikut menciptakan global warming. Hal ini mengindikasikan bahwa pola hidup seseorang akan mempunyai pengaruh besar terhadap keselamatan, atau bahkan kehancuran bumi sekalipun. Mari Memanfaatkannya Sudah saatnya kita membiasakan diri untuk hidup sehat dan ramah lingkungan. Kalau tidak dimulai sekarang, mau kapan lagi, apakah kita mau menunggu sampai bumi kita benar-benar hancur? Kita sebagai mahasiswa harusnya peka terhadap situasi yang semakin parah seperti ini. Apalagi kita sebagai mahasiswa ITS yang notabene merupakan kampus yang berbasis sains dan teknologi. Sebagai engineerlayaknya kita bisa menciptakan suatu ide-ide kreatif atau suatu alat yang bisa memanfaatkan kotoran sapi tersebut yang mengandung gas metana sebagai bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar fosil yang sudah langka. Memang dalam waktu dekat ini, bahan bakar alternatif dari kotoran sapi menjadi booming.Selain hal tersebut, seperti yang sudah dijelaskan tadi kotoran sapi juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik, dan sebagai media untuk pembenihan cacing tanah yang nantinya digunakan untuk obat. Dibalik bahaya yang dihasilkan oleh sapi (kotorannya), ternyata ada juga manfaat yang besar dari itu semua. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapi hal tersebut, kalau kita benar-benar mau berusaha menjaga bumi ini, tidaklah ada sesuatu hal yang tidak mungkin.

Sumber :
http://www.kompasiana.com/trendzleo/kentut-sapi-dan-global-warming-apa-hubungannya_5519c972a333118b1bb6592f.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar