Sabtu, 20 Februari 2016

Air Bersih Bebas Bakteri dan Zat Kimia



Air merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia. Air tentunya memiliki banyak manfaat bagi keberlangsungan hidup manusia. Contoh sederhana, dalam sehari saja kita manusia sangat dianjurkan minum minimal 2 liter. Tapi tahukan teman-teman apa itu air bersih? Apakah air yang setiap harinya kita gunakan untuk minum itu merupakan air bersih?
          Syarat air minum sesuai Permenkas harus bebas dari bahan-bahan anorganik dan organik. Dengan kata lain kualitas air minum harus bebas bakteri, zat kimia, racun, limbah berbahaya dan lain sebagainya.
          Parameter kualitas air minum yang berhubungan langsung dengan kesehatan sesuai Permenkas tersebut adalah berhubungan dengan mikrobiologi seperti bakteri E. Coli dan total Koliform. Yang berhubungan dengan kimia organik berupa arsentik, fluorida, kromium, kadminum, nitrit, sianida, dan selenium.
          Sedangkan parameter yang tidak langsung berhubungan dengan kesehatan, antara lain berupa bau, warna, jumlah zat padat terlarut (TDS), kekeruhan, rasa, dan suhu. Untuk parameter kimiawi berupa aluminium, besi, khlorida, mangan, pH,  seng, sulfut, tembaga, sisa khlor, dan amonia.
          Berdasarkan data statistik BPS (Badan Pusat Statistik) DKI Jakarta 1998 sekitar 50% rumah tangga menggunakan air ledang (PDAM), air tanah dengan menggunakan  pompa sebesar 42,67%, sumur gali 3,16% dan lainnya 0,63%. Bapak Arie dari BPS mengatakan bahwa permasalahan muncul berawal dari produk kualitas air minum. Kualitas air sungai dan air tanah kurang memenuhi syarat. Dikarenakan banyak orang buang sampah, kotoran maupun limbah ke sungai. Dan bahkan ada cara lain untuk membuang limbah berbahaya tesebut dengan menanamnya di kedalaman beberapa meter.
          Lebih lanjut, Ia menjelaskan sumber air bersih di Ibu Kota kita tercinta berasal dari sungai Citarum (80%), Cisadane (15%) dan sisanya Ciliwung. Kita ketahui bahwa sungai-sungai tersebut melintasi berbagai pedesaan, industri, pemukiman, dan transportasi yang cukup padat. Tentu saja kemungkinana besar apa yang dikatakan Bapak Arie tadi adalah benar adanya. Dan sangat disanyangkan, kesadaran masyarakat akan perlunya menjaga lingkungan masih sangat miris, sehingga sungai yang merupakan salah satu sumber daya alam rentan tercemar. Tak jauh berbeda dengan keadaan di perkotaan, di daerah pedesaan pun masyarakat mengalami krisis air layak untuk minum. Penggunaan pestisida berlebihan mencemari air di persawahan yang kemudian mengalir ke sungai dan dimanfaatkan masyarakat untuk kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit masyarakat desa pun mencuci dengan detergen di pinggir kali. Demikian juga masyarakat pesisir kesulitan mencari air tawar. Akibatnya, mereka air laut dengan kadar garam tinggi. Lanjut Bapak Arie , dalam mengolah air baku menjadi air layak minum teknologi pengolahan air minum yang di gunakan PDAM masih tertinggal. PDAM hanya menghilangkan bakteri E. Coli dan besi. Sedangkan kandungan karsinogen tidak pernah dilakukan.
          Lalu air mana yang dapat kita gunakan untuk minum?
          Teman-teman dari rangakaina kata tadi kita sebagai makhluk Allah SWT yang diberikan kelebihan berupa otak, jangan anggap itu hanya berupa rangakain kata yang tak berarti apa-apa. Mari kita sama-sama renungkan dan amalkan rangkaian kata tersebut menjadi sebuah makna, perintah, motivasi bagi kita untuk senantiasa menjaga alam yang sewaktu-waktu akan hancur ini. Mulailah dari hal terkecil yang kemudian beranjak menjadi hal yang luar biasa. Dan kita dapat menikmati air bersih yang bebas dari bakteri dan zat kimia.
Sumber :
Kusnanto, W. d. (2013). Kimia. Solo: Putra Keraton.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar