Minggu, 21 Februari 2016

Reaksi Kimia dalam Proses Jatuh Cinta



            Istilah jatuh cinta sudah sangat akrab dalam telinga semua orang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jatuh cinta diartikan sebagai menaruh perasaan cinta kepada seseorang. Namun apakah anda tahu bagaimana proses jatuh cinta terjadi? Menurut beberapa ilmuwan, jatuh cinta disebabkan oleh salah satu substansi kimia yang dihasilkan oleh tubuh. Substansi kimia tersebut biasa dikenal dengan istilah feromon (Pheromone).
            Pada awalnya feromon ditemukan pada serangga yang berguna untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Tetapi kenyataannya, feromon juga dihasilkan oleh kelenjar endokrin pada tubuh manusia, seperti ketiak, mulut, hidung, telinga, dan kulit.
            Feromon bersifat volatil (mudah menguap), tidak dapat diukur, tidak dapat dilihat, tetapi dapat dirasakan. Disamping itu, di dalam tubuh manusia feromon merupakan sinyal kimia yang berada di udara dan tidak bisa dideteksi melalui bau-bauan melainkan bisa dirasakan oleh vomeronasalorgan (VNO), organ yang terletak di dalam hidung dan lebih peka dibandingkan indra penciuman. Biasanya senyawa ini dihasilkan ketika kita sedang berkeringat.
            Pada tubuh manusia, feromon bekerja layaknya inisiator/ pemicu dalam reaksi kimia, dengan menimbulkan rasa ketertarikan terhadap lawan jeniss. Proses awal biasanya terjadi ketika melakukan kontak mata, maka feromon yang bersifat volatil dan tidak dapat dilihat ini akan tercium oleh VNO yang terhubung melalui jaringan-jaringan saraf dengan bagian otak (hipotalamus) yang berfungsi mengatur emosi manusia.
Setelah menerima rangsangan feromon melalui VNO tersebut, maka otak secara alamiah akan memberikan respon balik sehingga mempengaruhi kondisi psikologis tubuh manusia, seperti perubahan detak jantung, nafas tidak beraturan, suhu tubuh meningkat, dan berkeringat. Konon katanya kemampuan tubuh untuk menghasilkan feromon berkurang setelah 2-4 tahun, tetapi bukan berarti cinta hanya bersifat sementara.
            Menurut beberapa penelitian di London, produksi feromon oleh tubuh manusia akan sedikit demi sedikit berkurang ketika wanita mengkonsumsi pil KB. Sementara prof. Chaterinne Dulac dari Harvard mengatakan karena mutasi gen, kemampuan VNO yang bertugas menerima rangsangan dari feromon tidak berkembang, sehingga tidak dapat menyampaikan rangsangan tersebut kepada hipotalamus.
            Ketika jatuh cinta, ada beberapa hormon yang dilepaskan sehingga tubuh akan bereaksi merasakan berbagai perasaan dan emosi. Salah satu hormon yang dilepaskan adalah Dopamine yang memiliki efek seperti kokaine yang dapat membuat kita ketagihan. Dopamine adalah hormon kesenangan yang dilepaskan ketika kita berusaha mencapai suatu tujuan. Hormon ini juga memotivasi kita untuk bekerja keras mencapai tujuan tersebut serta membuat kita waspada dan fokus akan suatu hal.
            Banyak yang bilang ketika jatuh cinta wajah sang pujaan hati selalu terbayang, selalu berkeinginan untuk segera bertemu, makan terasa tidak enak, tidur tidak nyenyak, dan lain sebagainya. Ternyata itu bukanlah kata-kata lebay yang diungkapkan oleh orang yang sedang jatuh cinta, penyebab dari perasaan itu semua adalah hormon Pheniletilamine. Selain itu ada juga hormon Adrenaline yang sebagian fungsinya sama dengan hormon Pheniletilamine untuk mempercepat detak jantung. Efek yang ditimbulkan ketika hormon Adrenalin bekerja salah satunya adalah menghilangkan nafsu makan, karena organ pencernaan bekerja lebih lambat.


            Beberapa efek lain yang ditimbulkan ketika orang jatuh cinta adalah selalu merasa bahagia, bahkan tanpa disadari kadang senyum-senyum sendiri. Hal itu disebabkan oleh hormon Endorphine yang bekerja selayaknya morphine. Dr. Thomas Leuwis, dalam bukunya yang bertajuk A General Theory of Love mengatakan “jatuh cinta memang bukan merupakan fungsi otak, jatuh cinta lebih merupakan fungsi saraf”. Jadi tidak heran kenapa orang yang jatuh cinta kerap melakukan hal-hal bodoh, karena mereka mungkin “bekerja” tanpa menggunakan otak.
            Ternyata hal-hal yang biasa kita anggap berlebihan pada orang yang jatuh cinta dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Jatuh cinta merupakan fitrah dari Sang pencipta yang dirasakan oleh semua manusia dan dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan secara logis.

Referensi:

Desideria, B. (2015, january 09). Hormon yang Mempengaruhi Kebahagiaan.
Muqorroturrahmah, A. (2014, january 08). Reaksi Kimia dalam Proses Jatuh Cinta. Retrieved from mjeducation.com/reaksi-kimia-dalam-proses-jatuh-cinta/



Tidak ada komentar:

Posting Komentar